Saturday, January 1, 2011

MENGENAL IAD, ISD DAN IBD


A.    Pengertian IAD, ISD dan IBD
Ilmu Alamiah Dasar (IAD) atau sering disebut ilmu pengetahuan alam (natural science) merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam alam semesta, termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. IAD hanya mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang esensial dan urgen saja.
Secara singkat, para ilmuan membagi ilmu pengetahuan menjadi 3 bagian besar, yaitu:
1. Ilmu alamiah adalah ilmu yang mempelajari tentang alam, yang berhubungan dengan lingkungan alam seperti fisika, kimia, biologi, astronomi, botani dll.
2. Ilmu Sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan sosial manusia di lingkungan sekitar seperti sosiologi, ekonomi, politik, antropologi sejarah, psikologi, geografi dll.
3. Ilmu budaya adalah ilmu yang mempelajari adat istiadat atau kebiasaan hidup manusia di suatu wilayah seperti bahasa, agama, kesusastraan, kesenian dll.
Dari perkembangan ilmu sosial timbul paham study sosial yang disebut ilmu pengetahuan sosial. IPS adalah bidang studi yang merupakan paduan dari sejumlah mata pelajaran sosial. Diantara yang termasuk dalam ilmu pengetahuan sosial yaitu geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi dll.
Sedangkan Ilmu Sosial Dasar (ISD) adalah gabungan dari disiplin ilmu sosial yang digunakan dalam pendekatan dan pemecahan masalah sosial yang ada di lingkungan sekitar kita. ISD memberikan dasar – dasar pengetahuan tentang konsep untuk mengkaji gejala sosial.
Secara sederhana Ilmu Budaya Dasar (IBD) adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum  tentang konsep-konsep yang diekembangkan untuk mengkaji  masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah IBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa  Inggris  “the Humanities”.  Adapun  istilah humanities  itu sendiri  berasal  dari  bahasa  latin humnus yang artinya manusia,  berbudaya dan halus. Dengan mempelajari tentang budaya dan kemanusiaan diharapakan seseorang akan bisa lebih menyadari bahwa hakikat penciptaan dirinya adalah makhluk yang manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan  demikian  bisa dikatakan  bahwa  the  humanities  berkaitan  dengan  nilai-nilai manusia sebagai  homo humanus atau manusia berbudaya.  Agar manusia menjadi  humanus, mereka harus mempelajari  ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggung jawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.

B.      Tujuan IAD, ISD dan IBD
Secara singkat, tujuan IAD, ISD dan IBD adalah:
1.     Mengembangkan kesadaran manusia agar menguasai pengetahuan tentang keanekaragaman, kesetaraan dan kemartabatan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan beragama.
2.         Menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif dalam memahami nilai estetika, etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.
3.         Memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan yang kuat sebagai bekal hidup bermasyarakat, selaku individu dan makhluk sosial  yang beradab dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan di masyarakat.
4.         Meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah swt, melalui pemahaman tentang keberadaan dan hakikat alam semesta.
5.         Meningkatkan kesadaran tentang keterkaitan dan ketergantungan antara kehidupan manusia dengan alam dan lingkungan.
6.         Meningkatkan wawasan dan kecintaan tentang alam dan lingkungan yang memberikan kekuatan bagi sumber-sumber kemakmuran masyarakat.
7.         Menempatkan nilai-nilai sumber daya alam dan lingkungannya sebagai pendorong semangat ilmiah dalam kaitan dengan perkembangan IPTEK.
8.         Mampu berfikir secara rasional, sistematis dan bersikap secara profesional dalam menyelesaikan masalah kehidupan.
9.         Mengembangkan interaksi yang selaras antara disiplin ilmu eksak dan non-eksak.
10.      Mengusahakan kepekaan terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri  dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
11.      Memberi kesempatan untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya   serta  mengembangkan   daya   kritis  mereka   terhadap   persoalan-persoalan   yang  menyangkut   kedua   hal tersebut.
12.      Mengusahakan  agar mahasiswa,   sebagai   calon  pemimpin  bangsa dan Negara  serta ahli  dalam bidang  disiplin masing-masing tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat.
13.      Mengusahakan wahana komunikasi  para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancar dalam berkomunikasi.

C.      Ruang lingkup kajian IAD, ISD dan IBD
1.       Ruang lingkup kajian IAD
Ilmu alamiah dasar (IAD) merupakan pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, oleh karena itu untuk menunjang tercapainya tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, maka ruang lingkup kajian IAD juga harus jelas. Diantaranya adalah: perkembangan penalaran dan fisik manusia, perkembangan dan pengembangan sains, alam semesta, keanekaragaman makhluk hidup dan persebarannya, ekosistem, sumber daya alam dan lingkungan, sains dan teknologi dalam kehidupan manusia, bioteknologi dan aplikasinya, serta pencemaran lingkungan dan kesehatan.[4]

2.       Ruanglingkup Materi Kajian IBD (Ilmu Budaya Dasar)
Ilmu Budaya Dasar (IBD) identik dengan basic humanities. Dengan mempelajari Ilmu Budaya Dasar ini diharapkan seseorang menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan lebih halus.
Adapun ruang lingkup kajian Ilmu Budaya Dasar adalah:
a. Berbagai aspek kehidupan yang mengungkapkan masalah-masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (the humanities), baik dari segi keahlian. (disiplin) didalam pengertian budaya, maupun gabungan berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
b. Hakikat manusia yang satu atau universal, tetapi beragam perwujudannya dalam kebudayaan setiap zaman dan tempat. Dalam menghadapi lingkungan alam, social, dan budaya, manusia tidak hanya mewujudkan kesamaan-kesamaan, tetapi juga ketidak seragaman, sebagaimana ekspresinya dalam berbagai bentuk dan corak ungkapan, pikiran, perasaan, dan tingkah laku.
3.    Ruanglingkup Materi ISD (Ilmu Sosial Dasar)
Adapun ruang lingkup kajian materi Ilmu Sosial Dasar adalah:
a. Kenyataan-kenyataan sosial yang ada dalam masyarakat, yang secara bersama-sama merupakan maslah sosial tertentu. Kenyataan-kenyataan sosial tersebut sering ditanggapi secara berbeda oleh para ahli ilmu social. Karena adanya perbedaan latar belakang disiplin ilmu atau sudut pandangnya
b. Konsep-konsep social atau pengertian-pengertian tentang kenyataan-kenyataan social dibatasi pada konsep dasar atau elementer saja yang sangat diperlukakn untuk mempelajari masalah-masalah social.
Sebagai contoh dari konsep dasar semacam ini misalnya konsep keanekaragaman, dan konsep kesatuan sosial. Bertolak dari kedua konsep tersebut diatas, maka dapat kita pahami dan sadari di dalam masyarakat selalu terdapat:
1). Persamaan dan perbedaan pola pemikiran dan pola tingkah laku
baik secara individual maupu kelompok.
2). Persamaan dan perbedaan kepentingan.
Persamaan dan perbedaan itulah yang seringkali menyebabkan timbulnya konflik, kerjasama, kesetiakawanan antar individu dan golongan.
c. Masalah-masalah sosial yang timbul dalam masyarakat biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan sosial yang antara satu dengan yang lainnya salaing berkaitan.
Ada 2 masalah yang dipakai sebagai pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup pembahasan mata kuliah ISD.
1. Berbagai aspek yang merupakan suatu masalah sosial yang dapat ditanggapi dengan pendekatan sendiri atau pendekatan gabungan antar bidang.
2. Adanya keragaman golongan dan kesatuan sosial lain dalam masyarakat.

D.      Urgensi IAD, ISD dan IBD
1.         Urgensi IAD
Sehubungan dengan fungsi IAD dalam segala sendi kehidupan, maka akan sangat dirasakan urgensi pembelajaran IAD. Diantara contoh-contohnya antara lain:
a.         Bidang teknologi informasi dan komunikasi, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi amat terasa pada beberapa tahun terakhir. Titik awal dari perkembangan ini adalah revolusi industri yang kemudian memberikan pencerahan kepada para ilmuan untuk mengembangkan teknologi, sehingga manusia dapat merasakannya sampai saat ini. Siapapun yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi akan unggul dalam persaingan antar bangsa, akan dengan mudah mensejahterakan rakyatnya, dan akan menjadi pengendali informasi dunia.
b.         Bidang pangan dan perbaikan gizi, dalam bidang ini peran sains sangat besar dalam merealisasikan kesejahteraan manusia baik dari segi teknologi pangan, peningkatan penyediaan makanan, dan penganekaragaman konsumsi masyarakat.[6]
c.          Bidang bioteknologi, seiring dengan semakin berkurangnya minyak bumi, manusia mencari energi alternatif yang diupayakan dapat menggantikan posisi minyak bumi sebagai sumber energi. Selanjutnya ditemukan biji jarak yang kemudian diolah menjadi biosolar. Masih banyak lagi contoh-contoh dari urgensi Ilmu Alamiah Dasar yang tidak disebutkan dalam makalah singkat ini.
2.         Urgensi IBD
Manusia merupakan makhluk yang berbudaya. Sebenarnya kebudayaan didefinisikan sebagai hasil pengungkapan diri manusia kedalam materi sejauh diterima dan dimiliki oleh suatu masyarakat dan menjadi warisannya. Manusia harus menciptakan suatu kebudayaan, sebab tanpa kebudayaan ia makhluk yang tidak berdaya, yang menjadi korban dari keadaanya yang tidak lengkap dan naluri-nalurinya yang tidak terpadu.[7] Tanpa budaya, tidak akan ada perbedaan antara manusia dengan makhluk lainnya termasuk hewan.
Ilmu Budaya Dasar memiliki urgenitas bagi Manusia, karena orientasi manusia adalah lingkungan yang berbudaya. Dari lingkungan yang berbudaya tersebut mereka harus lebih mudah untuk terintegrasi dalam lingkungan tersebut terutama dengan lingkungan yang baru, hal ini untuk keberadaan manusia selanjutnya dalam kehidupan bermasyarakat.
Urgenitas yang sangat vital dalam mempelajari Ilmu ini adalah karena ilmu ini memberi pandangan yang luas terhadap masalah-masalah kemanusiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka tehadap persoalan-persoalan yang menyangakut kedua hal tersebut. Juga mengusahakan agar para Mahasiswa, sebagai calon pemimpin bangsa dan Negara maupun bagi diri sendiri dan keluarga, serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing, tidak jatuh kedalam sifat-sifat kedaerahan dan pengotakan disiplin yang ketat. Usaha ini terjadi karena ruang lingkup pendidikan kita amat sempit dan condong membuat manusia spesialis yang berpandangan kurang luas. Ilmu Budaya Dasar berusaha menambah kemampuan Mahasiswa untuk menanggapi masalah dan nilai-nilai dalam lingkungan masyarakat mereka.
3.         Urgensi ISD
Pengembangan Ilmu Sosial Dasar sejalan dengan realisasi pengembangan ide dan pembaharuan sistem pendidikan yang bersifat dinamis dan inovatif. Ilmu Sosial Dasar adalah ilmu-ilmu sosial yang dipergunakan dalam pendekatan, sekaligus sebagai sarana jalan keluar untuk mencari pemecahan masalah-masalah sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Urgenitas ilmu ini sendiri bagi Mahasiswa adalah memberikan dasar-dasar atau pengetahuan sosial kepada para Mahasiswa, yang diharapkan akan cepat tanggap serta mampu menghadapi dan memberikan alternatif pemecahan masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan beragama.
Berdasarkan pengetahuan yang didapat melalaui ISD, diharapkan para Mahasiswa akan mapu mengorientasikan dan menunjukkan  eksistensi dirinya berkat pengahayatannya terhadap arah perkembangan masyarakat. Setelah mengorientasikan diri secara mapan paling tidak ia harus mampu mengetahui kearah mana pemecahan masalah itu harus ditempuh. Masalah-masalah sosial yang berkembang sedemikian kompleks, baik yang bersifat lokal, regional, nasional maupun internasional seperti pengangguran, urbanisasi, penyelundupan, kriminalitas, kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkotika. Pertentangan ras dan pergolakan politik, merupakan masalah-masalah sosial yang harus dilihat serta ditanggulangi dengan segala aspek pengetahuan yang terjalin satu sama lain.[8]



E.       Islam, Manusia dan Alam Semesta
Al-Qur’an –melalui ayatnya yang cukup banyak- kerap kali mengajak pembacanya untuk memperhatikan keindahan alam raya dengan segala keteraturan dan keserasiannya. Alam raya adalah kreasi sang Mahaindah yang tak pelak telah merefleksikan keindahan dan kesempurnaan penciptanya. Alam raya memang lebih dari sekedar pesona kaindahan yang menimbulkan decak kagum bagi mereka yang mengamatinya.
Melalui sains manusia mencoba mendeskripsikan apa dan bagaimana proses fenomena alam bisa terjadi dalam konteks eksperimen dan pengamatan, dengan parameter yang bisa diamati dan diukur. Agama memperluas cakupan makna alam semesta bagi manusia tentang kehadiran benda-benda alam semesta, kehidupan dan manusia.[9]
Manusia menempati posisi kunci untuk perannya dalam melestarikan alam semesta. Akan diarahkan kemana alam semesta ini di masa depan, apakah manusia sebagai subyek dapat membawa alam semesta ini menuju keteraturan dan pelestarian, atau malah sebaliknya. Oleh karena itu, islam mengajarkan kita bagaimana memahami landasan-landasan dan peran manusia sebagai khalifah fil ardh. Landasan itu menurut Al Qur’an dan Hadits antara lain :
1.  Allah pencipta langit dan bumi (Alam semesta), dibalik keindahan alam semesta dan misteri yang tekandung didalamnya tentu ada yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini sedemikian rupa, sehingga semua berjalan sesuai dengan perintah-Nya. Dialah Allah sang maha pencipta yang menciptakan alam semesta ini. Islam adalah Diin yang Syaamil (integral), Kaamil (Sempurna) dan Mutakaamil (Menyempurnakan semua sistem yang lain), karena ia adalah sistem hidup yang diturunkan oleh Allah yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. ”Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku cukupkan atasmu nimatku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu” (QS 5:3). Dan demikian sempurnanya Allah mengatur sehingga aturan itu juga mencakup hubungan manusia sebagai khalifah dengan alam dan lingkungan hidupnya.
2.  Manusia sebagai khalifah di bumi ini,  Pelestarian alam dan lingkungan hidup tak terlepas dari peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sebagaimana disebutkan dalam QS Al Baqarah : 30  “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Arti khalifah di sini adalah manusia diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, mengemban tugas kekhalifahan yaitu untuk menjadikan masyarakat madani yang sadar akan hak dan kewajibannya, menjadikan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat, agama, memelihara akal, budaya, dan menjaga pelestarian alam dan lingkungan hidup.
3.  Pengakuan akan keesaan Allah, pengakuan akan keesaan Allah dalam penciptaan alam semesta ini merupakan sebuah titik balik bagi manusia untuk memahami kunci masalah lingkungan hidup dan pelestariannya. “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Allah yang menciptakan langit dan Bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan  Tuhan” (Al An’aam 79).
4.  Memahami Allah yang Maha mengatur kehidupan alam semesta,  Keteraturan yang ditata dengan baik dan sempurna adalah karena Allah yang telah mengatur kehidupan dan segala di alam semesta ini. Tidak akan ada yang melenceng dari ketetapan-Nya dan peraturan-Nya.
5 Memahami maksud dan tujuan penciptaan alam semesta, Alam semesta ini diciptakan agar manusia dapat berusaha dan beramal sebagai ajang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan sehingga tampak di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah. “ Dan dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,…Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya “ (Surat Hud:7).
6.  Kewajiban manusia untuk melestarikan alam semesta, Manusia sebagai khalifah di muka bumi, memiliki kewajiban mestarikan alam semesta dan lingkungan hidup dengan sebaik-baiknya. Agar hidup di dunia menjadi makmur sejahtera penuh keberkahan dan menjadi bekal di hari akhir kelak.  “ Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada Nya….” (Al A’raaf 56)
7. Memahami tugas menjaga keseimbangan  lingkungan hidup,  Menjadi tugas bagi manusia sebagai khalifah di bumi ini untuk menjaga keseimbangan lingkungan hidup  untuk kesejahteraan hidup manusia di bumi ini :” Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala seuatu menurut ukuran “ (AL Hijr 19)
8.  Pemahaman mengenai siklus Hidrologi, Proses perubahan diciptakan untuk memelihara keberlanjutan (sustainability) bumi. Proses ini dikenal sebagai  siklus hidrologi, mencakup proses evaporasi, kondensasi, hujan dan aliran air ke sungai/danau/laut, Dalam surat Ar-Ruum :48 dijelaskan ”Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki Nya, dan menjadikannya bergumpal gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba Nya yang dikehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (Ar-Ruum:48)
9. Kebersihan rohani dan jasmani, Manusia sebagai khalifah, sudah tentu harus bersih rohani dan jasmaninya. Kebersihan jasmani adalah bagian integral daripada kebersihan rohani. “Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang bertaubat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri” (Al-Baqarah 222).”…dan bersihkanlah pakaianmu serta tinggalkan segala perbuatan dosa” (Al-Mudatsir 4-5).
Hal ini dikarenakan yang mampu memelihara alam semesta ini dan bertindak sebagai khalifah di bumi hanyalah orang-orang yang bersih secara rohani dan jasmani. Sementara itu manusia yang diliputi hawa nafsu, memenuhi pikirannya dengan hal-hal kotor, dan hanya mencari keuntungan dunia saja tanpa menganalisis dampak dari perbuatannya, akan mengakibatkan kerusakan alam semesta. Orang-orang seperti inilah yang tidak memahami landasan-landasan penciptaan langit dan bumi (alam semesta ini).[10]
F.       Islam, Sosial Budaya dan Sains
Islam adalah agama yang sempurna, kaaffah, yang mengatur segala sendi kehidupan, dari mulai hal yang terkecil sampai pada pengaturan masalah-masalah besar. Semuanya ada dalam islam. Nash (al-Qur’an dan Hadits) banyak sekali yang menyinggung adab/perilaku terhadap sesama manusia, Mengatur segala bentuk sendi kehidupan sosial antara sesama manusia. Banyak diantara ajaran peribadatan dalam islam yang didalamnya tersirat makna hubungan antar sesama manusia dalam kehidupan sosial. Seperti contoh, islam menganjurkan mengerjakan shalat secara berjamaah dalam komunitasnya sehari lima kali, disini islam mengajarkan agar manusia dengan kodratnya sebagai makhluk sosial untuk senantiasa menyambung tali silaturrahim.
Begitu juga Islam sangat menghargai kebudayaan, Islam mengadopsi budaya-budaya arab yang sesuai dengan nilai-nilai Islam yang kemudian diaplikasikan dalam masyarakat Islam. Meskipun demikian, Islam tidak lantas lepas kontrol dalam mengawasi perkembangan sosial budaya dari hasil adopsi tersebut, kritik dan koreksi akan selalu mewarnai seiring dengan berkembangnya ijtihad di kalangan para ulama’ Islam. Diantara contoh dari adopsi hasil dari budaya arab adalah tradisi musyawarah, pada zaman pra-Islam musyawarah dikalangan bangsa arab sudah menjadi tradisi, hal ini terbukti dengan adanya “daar an-nadwa” yakni sebuah tempat yang difungsikan untuk membahas permasalahan seputar internal suku maupun eksternal.
Sebagai ummat yang memelihara peradaban (al-muhafadhatu al-hadharah) masa lalu, Islam sama sekali tidak melarang ummatnya untuk mengembangkan sains dan teknologi. Bahkan, Islam memiliki kepedulian dan perhatian penuh kepada ummatnya, agar terus berproses untuk menggali potensi-potensi alam dan lingkungan menjadi sebuah pusat peradaban yang gemilang. Dalam konteks ini pula, tidak ada pertentangan antara sains dan Islam, dimana keduanya berjalan seimbang dan selaras untuk menciptakan khazanah keilmuan dan peradaban manusia yang lebih survival dari sebelumnya. Walaupun, pada kenyataannya sains Islam mengalami kemunduran dan kalah bersaing dengan sains Barat.
Pandangan Islam terhadap sains dan teknologi adalah bahwa Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan modern. Justru Islam sangat mendukung umatnya untuk me-research dan bereksperimen dalam hal apapun, termasuk sains dan teknologi. Bagi Islam, sains dan teknologi adalah termasuk ayat-ayat Allah SWT yang perlu digali dan dicari keberadaannya. Ayat-ayat Allah yang tersebar di alam semesta ini merupakan anugrah bagi manusia sebagai khalifatullah fil ardh untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Prinsip-prinsip pandangan Islam tentang sains dan teknologi bersumber dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW yang berbunyi, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-Alaq 1-5) intisari dalam ayat ini adalah ajakan atau dorongan untuk menggali ilmu pengetahuan yang merupakan ayat-ayat Allah yang bersifat kauniyah dan memanfaatkanya sepenuhnya untuk kesejahteraan manusia.
Ayat lain yang mendukung pengembangan sains, berbunyi bahwa “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-si. Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 190-191).
Ayat-ayat di atas adalah sebuah dorongan yang Allah berikan kepada hambanya untuk terus menggali dan memperhatikan apa-apa yang ada di alam semesta ini. Sebuah anjuran yang tidak boleh kita abaikan untuk bersama-sama melakukan penggalian keilmuan yang lebih progresif sehingga mencapai puncak keilmuan yang dikehendaki Tuhan. Tak heran, kalu seorang ahli sains Barat, Maurice Bucaile, setelah ia melakukan penelitian terhadap al-Qur’an dan Bibel dari sudut pandang sains modern, menyatakan bahwa “Saya menyelidiki keserasian teks Qur’an dengan sains modern secara obyektif dan tanpa prasangka. Mula-mula saya mengerti, dengan membaca terjemahan, bahwa Qur’an menyebutkan bermacam-macam fenomena alamiah, tetapi dengan membaca terjemahan itu saya hanya memperoleh pengetahuan yang sama (ringkas). Dengan membaca teks arab secara teliti sekali saya dapat mengadakan inventarisasi yang membuktikan bahwa Qur’an tidak mengandung sesuatu pernyataan yang dapat dikritik dari segi pandangan ilmiah di zaman modern”. [11]
Selain banyak memuat tentang pentingnya pengembangan sains, al-Qur’an juga dapat dijadikan sebagai inspirasi ilmu dan pengembangan wawasan berpikir sehingga mampu menciptakan sesuatu yang baru dalam kehidupan. Apa yang menjadi kebutuhan sains, sebenarnya sudah terlefleksi dan termanifestasi dalam teks al-Qur’an. Hanya saja, untuk menemukan hal tersebut, dibutuhkan kemampuan untuk menggalinya secara lebih mendalam agar potensi alamiah yang diberikan Tuhan dapat memberikan kemaslahatan sepenuhnya bagi keselarasan alam dan manusia. Itulah sebabnya, fungsi iptek bukan sekedar sebuah kerja eksplorasi, diskripsi, eksplanasi, dan interpretasi fakta-fakta emperik, tetapi lebih sebagai metodologi pemahaman atas rantai realitas untuk mengungkap metafisika tauhid dan ilahiyah tentang tata hubungan ayat qauliyah dan kauniah. Dengan kata lain, kerja iptek, lebih tepatnya sains dan teknologi merupakan langkah primordial bagi terciptanya tatanan sosial untuk tujuan-tujuan transenden kemakmuran dan rahmat bagi seluruh ummat manusia.


[1] http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/pengertian-dan-ruang-lingkup-ilmu-sosial-dasar-by-rahman-december-16th-2009/
[2] http://massofa.wordpress.com/
[3] Tim FMIPA UNESA, Sains Dasar, Surabaya, Unesa Press, 2007.
[4] Ibid..
[5]http://makmum-anshory.blogspot.com/2009/12/konsep-dan-prospektif-iad-ilmu-alamiah.html
[6] Tim FMIPA UNESA, Sains Dasar, Surabaya, Unesa Press, 2007.
[7] http://tepolngo2.blogspot.com/2010/10/iad-ibd-dan-isd.html
[8] Ibid..
[9] http://www.harunyahya.com/indo/m_buku.htm
[10] http://majalahnh.com/index.php/wawasan.html
[11]http://www.kompasiana.com/www.mohammadtakdirilahi.blogspot.com

1 comment:

  1. bismillah.saya ambil isbdnya ya.wasssalam.makasih bnyak

    ReplyDelete